WISATA

Sumatera Utara memiliki beberapa kawasan daerah tujuan wisata alam yang memiliki keindahan alam yang menarik, wisata budaya, wisata rohani, rumah-rumah tradisional, dan peninggalan-peninggalan bersejarah lainnya. Kabupaten Dairi merupakan salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang usianya cukup tua. Kabupaten Dairi memiliki luas wilayah 3.146,1 km² dan populasi 273,851 jiwa. Kabupaten Dairi Ibu kotanya adalah Sidikalang dan merupakan salah satu kawasan daerah tujuan wisata yang ada di Sumatera Utara.
Website Pariwisata Dairi adalah Website yang berisi tentang konten Objek Wisata, dan juga menampilkan cuplikan vidio, dan penjelasan berupa rute jalan, harga tiket masuk, transportasi dll, dengan adanya Web ini, agar pengunjung yang ingin tahu apa saja objek wisata yang ada di Kabupaten Dairi dapat dengan mudah mengakses Web ini. Kiranya dengan adanya Web ini dapat membantu banyak khalayak. Ada un Objek Wiata Yang Dimaksud adalah sebagai berikut :

  • TAO SILALAHI

Tao berasal dari bahasa batak yang berarti danau. Di Kecamatan Silalahi sabungan Kabupaten Dairi terdapat lokasi wisata danau Toba yang sangat indah. Wisata danau yang ada terletak pada sepanjang pantai beberapa desa, seperti desa Silalahi I, Silalahi II, Silalahi III, dan Paropo. Hamparan pantai yang indah diperkirakan dapat mencapai 28 km. Perairan Danau Toba di Kecamatan Silahi sabungan merupakan palung terdalam yang ada di dunia, dengan kedalaman mencapai 905 meter.Tao Silalahi juga merupakan bagian dari Danau Toba yang paling luas. Sampai ada perumpamaan orang yang batak yang mengatakan “Tao Silalahi dang tarhabangan lali”. Maksudnya, karna wilayah perairannya yang sangat luas, bahkan elang sekali pun tidah dapat mengelilingi Tao Silalahi.

Bukan hanya pantai, penduduk di Kecamatan Silalahi sabungan ini juga masih sangat menjunjung tinggi adat kebudayaan. Penduduk yang tinggal di daerah ini pada umumnya bermarga Silalahi. Disini juga terdapat Tugu Marga Silalahi yang sangat di percaya kekeramatannya. Mereka percaya bahwa Oppung Silahi Sabunganlah yang menjaga kehidupan mereka. Di Silalahi juga banyak tempat peninggalan masalalu dari nenek moyang marga silalahi.Tugu Silalahi sabungan menjadi saksi keturunan marga Silalahi yaitu terdiri dari Sihaloho, Situngkir,sondiraja,sidebang,sinabariba,sinabutar,pintubatu dan tambunan. Di tugu ini diukir cerita-cerita dari leluhur marga silalahi. Keturunan marga silalahi ini sering berkunjung ke Silalahi untuk berziarah ke Tugu dan mandi di danau di depan tugu. Mereka sering mengadakan acara untuk menghormati leluhur dan memperkenalkan keturunan mereka pada kebudayaan Silalahi. Acara tahunan yang dirayakan di Tugu Silalahi adalah Pesta Tugu yang biasanya diadakan pada Bulan November tiap tahunnya.

Tidak hanya melihat pemandangan Danau Toba Saja. Berburu Ikan Pora – Pora dan Jahir juga dapat anda lakukan disini dengan cara memancing atau menggunakan jaring. Pohon Mangga disepanjang jalan akan sangat menggoda tepat pada saat musimnya. Jangan lupa menikmati kuliner panggang ikan Mujahir Khas Batak Toba di Tepian Danau Toba. Selain itu dapat menikmati bangunan yang memiliki nilai eksistensi bagi Marga Silalahi, Tugu dinamai Tugu Silalahi. Rute menuju objek wisata Tao Silalahi dapat dicapai melalui dua jalan, yakni dari kabuaten dairi melalui jalur Medan – Sumbul – Silalahi. Rute kedua Yakni : Medan – Kabanjahe – Tongging – Silalahi. Bila berkunjung ke tugu silalahi, hanya akan di pungut biaya parkir saja.

  • AIR TERJUN LAE PENDAROH

Air Terjun Di Kabupaten Dairi yang beribukotakan Sidikalang ini bernama Lae Pendaroh, berasal dari bukit sitinjo dimana juga terdapat sebuah tempat wisata relegius yakni Taman Wiata Iman. Letaknya yang tepat berada tepat di tepi jalan raya lintas Sumatera Utara – Aceh menjadikan air terjun ini kerap juga disinggahi oleh para pemudik dan sekedar berkunjung saja.

Air Terjun lae Pendaroh keunikannya  terletak pada warna air nya yang berwarna merah darah di waktu-waktu tertentu.  Kata “pendaroh” berasal dari kata daroh yang artinya darah. Lae pendaroh memiliki ketinggian  sekitar 3 meter, dan aliran air nya langsung menuju kawasan lau  renun. Derasnya debit air pendaroh adalah alasan setiap pengunjung harus berhati-hati karena air terjun ini terdiri dari 7 tingkat. Tingkatan pertama adalah ditepi jalan selebihnya berada disepanjang aliran air terjun menuju sungai lau renun.

Rute menuju lokasi tersebut dari kota medan sama seperti menuju Taman Wisata Iman, Lae Pendaroh akan lebih dulu sampai, sebelum TWI. Tidak di pungut biaya bila berkunjung ke air terjun lae pendaroh tersebut. Waktu berkunjung pun bebas. Kendaraan umum yang menuju Air Terjun Lae Pendaroh adalah mobil sewa Pas, Datra, Sampri Dengan Ongkos Rp,45.000. dianjurkan untuk menggunakan kendaraan pribadi agar lebih leluasa untuk mengatur waktu dan tujuan selanjutnya.

  • TAMAN WISATA IMAN

Taman Wisata Iman berada di Bukit Sitinjo dengan luas 130.000 m2, terletak di Desa Sitinjo, Kecamatan Sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Terletak sekitar 10 km dari Ibu Kota Kabupaten Dairi, Sidikalang atau sekitar 154 km dari Medan.

Bupati Dairi yang pada saat itu dijabat oleh Dr. Master Parulian Tumanggor pada awal tahun 2001 telah merancang sebuah lokasi yang didalamnya terdapat fasilitas ibadah dan wisata rohani untuk kelima agama yang terdapat di Indonesia. Gagasan itu diwujudkan melalui dialog bersama dengan seluruh tokoh-tokoh agama dan masyarakat yang ada di Kabupaten Dairi untuk membahas realisasi dari rencana tersebut. Hasil dari dialog tersebut diperoleh berupa penetapan Lokasi Pembangunan Taman Wisata Iman Dairi yaitu di daerah Perbukitan Sitinjo yang terletak di Kecamatan Sitinjo. Adapun pertimbangan sehingga Taman Wisata Iman ditempatkan di lokasi tersebut karena mengingat lokasi tersebut ditutupi oleh hutan pinus dan dinilai sangat bagus dan cocok untuk tempat berwisata rohani. Pada hari Selasa, 20 Agustus 2005 Menteri Agama Republik Indonesia yang saat itu dijabat oleh Bapak Prof. Dr. H. Said Agil Al-Munawar melakukan peletakan batu pertama Taman Wisata Iman (TWI) dan disaksikan oleh pemrakarsa Bapak Dr. Master Parulian Tumanggor.

TWI merupakan tempat wisata religius. TWI bukan hanya mewakili salah satu agama saja yang diakui di Indonesia melainkan semua agama. Mewakili yang dimaksud adalah bahwa dalam TWI terdapat berbagai bangunan-bangunan yang dianggap bersejarah bagi pemeluk agama masing-masing. Mulai dari tempat peribadatan hingga miniatur bangunan yang dianggap bersejarah dan mengenangkan peristiwa-peristiwa penting bagi pemeluknya.

Di Taman Wisata Iman ini kita dapat melihat : Vihara Saddhavadana dengan patung Buddha Rupang, Patung Abraham, patung Nabi Musa, Gereja Oikumene, Gua Bunda Maria, Perahu Nabi Nuh, dan patung ular beserta adam dan hawa yang memakan buah terlarang. Perjalanan Kehidupan Yesus Kristus yang terdiri dari Kandang Domba di Betlehem, Yesus memberi makan 5000 orang, Yesus berdoa di Taman Getsmani, 14 tahap perjalanan salib (Via Dolorosa), Bukit Golgata dan Kebangkitan Yesus, Kuil Hindu Lapangan Manasik Haji dan Mesjid. Dan Taman Firdaus.

Harga Tiket masuk TWI sebesar Rp10.000 (dewasa) dan Rp5.000 (anak-anak), roda dua Rp2.000, roda empat Rp5.0000, roda enam Rp7.000. Asrama Rp200.000/hari, Aula Rp400.000/hari. Buka Pukul 08:00 – 18:30 Wib. Rute menuju Taman Wisata Iman jika start nya dari kota Medan – Berastagi – Merek – Sidikalang. Perjalanan dari Kota Medan menuju TWI bisa ditempuh kurang lebih sekitar 4 jam. Taman Wisata Iman tepat berada di sebelah kiri jalan. Kenderaan Umum yang menuju TWI dari kota medan yaitu Mobil Pas, Dairi dan SAMPRI Dengan ongkos sebesar Rp45.000. dianjurkan untuk menggunakan kendaraan pribadi agar lebih leluasa untuk mengatur waktu dan tujuan selanjutnya.

  • TWA DANAU SICIKE-CIKE

Danau Sicike-cike adalah salah satu destinasi wisata di Kabupaten Dairi yang menonjolkan keindahan dan keasrian alam yang berpadu dengan konsep pelastarian alam. Taman Wisata Alam (TWA) Sicike-cike merupakan salah satu hutan suaka alam, hutan pelestarian alam yang berada di bawah pengelolaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara yang ada di Kecamatan Parbuluan dan Kecamatan Sitinjo Kabupaten Dairi, serta Kecamatan Kerajaan Kabupaten Pakpak Bharat. TWA Sicike-cike merupakan salah satu dari 124 TWA yang ada di Indonesia atau salah satu dari 6 TWA yang ada di Provinsi Sumatera Utara.

TWA Sicike-cike ini terletak bersebelahan dengan Kawasan Hutan Produksi (HPT) Adian Tinjoan. Penetapan TWA Sicike-cike berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 78/Kpts/II/1989 pada tanggal 7 Februari 1989 dengan luas ± 575 hektar.

TWA Sicike-Cike pernah menjadi lokasi peneliti dari luar negeri, objek penelitiannya mengukuhkan taman ini sebagai surga kantong semar terkaya di dunia. Fakta tersebut tidak berlebihan, dengan mudah anda dapat menemukan tumbuhan bernama latin Nephentes ini. Tak hanya itu saja, bagi anda pecinta bunga angrek, anda dapat mengexplore kekayaan TWA Sicike-Cikeh. Tumbuhan lain yang tak boleh anda lewatkan begitu saja adalah keberadaan Bunga Raflesia Arnoldi, Tumbuhan langka di kawasan Pulau Andalas (Sumatera).Terdapat tiga danau disekitar lokasi, ketiga danau ini letaknya terpisah namun saling berdekatan. Mitos yang berkembang menyatakan bahwa bagi para pengunjung yang beruntung akan melihat rumah didasar danau. Berdasarkan legenda masyarakat, Danau Sicike-Cike dulunya adalah perkampungan sipitu marga, yakni Ujung, Angkat, Bintang, Kudadiri, Capah, Gajah Manik dan Sinamo. Akibat ketidakpatuhan seorang anak kepada orangtuanya, terjadilah Danau Sicike Cike yang menjadi pelengkap 7 danau di Sumatera Utara. Legenda tersebut masih dipercaya oleh penduduk setempat, mereka menyatakan bahwa Desa Sicike-Cike adalah asal muasal sipitu marga yang kini tersebar.

Danau ini merupakan hulu 3 buah sungai yaitu Lae Pandaroh, Lae Simblin, dan Lae Mbilulu.  TWA Sicike-cike ini tidak jauh dari Taman Wisata Iman yang berada sekitar 7 km dari kota Sidikalang. Bahkan Lae Pandaro yang berhulu  di Danau Sicike-cike mengalir melintasi Taman Wisata Iman.

Keadaan vegetasi di TWA Sicike-cike merupakan hutan hujan tropis pegunungan dengan jenis-jenis tumbuhan antara lain : Samponus bunga (Dacrydium junghuhnii), Kemenyan (Styrax benzoin), Kecing (Quercus sp) dan Haundolok (Eugenia sp). Di samping itu terdapat juga beberapa tanaman hias seperti anggrek hutan dan kantong semar (Nephentes spp.). Gagatan harimau, rotan dan beberapa jenis pakis, paku-pakuan serta liana juga masih ditemukan tumbuh dengan baik di dalam kawasan ini. Oleh karena banyaknya anggrek tumbuh di daerah sekitar danau ini yang diperkirakan sekitar 112 jenis anggrek, maka ada yang menyebutnya sebagai surga anggrek.

Beberapa jenis satwa yang dapat dijumpai di sana antara lain beruang madu, kambing hutan, harimau, babi hutan, itik liar, siamang, burung enggang, musang dan rusa. Satwa-satwa yang mudah dijumpai adalah jenis burung dan serangga, terutama kupu-kupu. Sementara di dalam danau Sicike-cike, satu-satunya ikan yang dapat ditemukan ialah ikan gobi. Ikan gobi ini berwarna kemerahan dan konon dapat dijadikan obat.

Hutan wisata Sicike-cike, dengan potensi flora dan fauna, dapat dijadikan sebagai laboratorium penelitian hutan, karena kawasan ini menyimpan dan menjadi habitat puluhan bahkan mungkin ratusan koleksi keanekaragaman hayati (khususnya tumbuhan) yang merupakan khas daerah tersebut (endemik). TWA Sicike-cike inipun bukan tidak mungkin juga menyimpan beragam tanaman obat-obatan yang bisa dijadikan sebagai alternatif pengobatan secara tradisonil.  Untuk itu masih perlu dilakukan penelitian secara khusus (berbagai sumber).

Untuk menuju lokasi ini tidaklah terlalu sulit, karena dapat ditempuh melalui jalan darat dengan jarak sekitar 170 Km dari Kota Medan, dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Jika ditempuh dari ibu kota Kabupaten Dairi, Sidikalang, jaraknya sekitar 21 km dengan waktu tempuh sekitar 30 menit, menggunakan kendaraan umum roda empat sampai di Desa Lae Hole II Pancur Nauli. Bila menggunakan kendaraan roda dua, waktu tempuhnya juga sekitar 30 menit.

Khusus dari Kota Sidikalang, angkutan umum sampai ke Desa Lae Hole II, umumnya ada pada hari Rabu dan Sabtu. Sedangkan untuk hari biasa dapat menyewa angkutan umum sampai ke Desa Lae Hole II tepatnya di pos Resort Wilayah KSDA (Konservasi Sumber Daya Alam) TWA Sicike cike. Dari Desa Lae Hole II kemudian dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 2,5 Km dengan waktu tempuh 30-45 menit sampai berada di kawasan TWA Sicike-cike, ataupun menggunakan kendaraan roda 2 sampai ke perbatasan kawasan.

  • NANTAMPUK MAS, SIDIANGKAT

Objek wisata ini berhasil menjadi magnet bagi wisatawan generasi milenial. Spot foto menarik menyerupai sarang burung tentu saja membuat orang banyak bertanya-tanya. Dengan berlatar-kan panorama keindahan alam tanah Pakpak, jauh dari polusi udara, Puncak Sidiangkat patut menjadi salah satu pilihan terbaik untuk dikunjungi saat berada di Kabupaten Dairi.

Kreatifitas maupun ide cemerlang ini muncul dari Siong Sinaga (35 tahun) anak bungsu dari beru Kabeakan pemilik lokasi puncak dan Hotel Nantampuk Mas Sidiangkat Kabupaten Dairi Sumatera Utara. Patut diacungi jempol karena telah mampu meningkatkan tingkat kunjungan pariwisata Dairi khususnya ke lokasi Hotel Nantampuk Mmas Puncak Sidiangkat persis diperbatasan wilayah Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat.

Siong Sinaga yang berperilaku santun ini mengaku mendapatkan inspirasi pembuatan rumah pohon, lingkaran matahari bersinar dan sarang burung tersebut ketika dia melihat banyaknya lalulalang sepeda motor, maupun mobil ingin berlibur melintas persis di Jalan Negara dilokasi tersebut dan berharap bagaimana caranya agar sebagian mereka singgah di tempatnya, kemudian dengan searching dan browsing via internet di Pulau Dewata Bali melihat sesuatu yang unik ini dan akhirnya men-design-nya sendiri.

Siong Sinaga menambahkan bahwa Hotel Nantampuk Mas yang berada di puncak dikelilingi bebukitan dan view hutan lindung menghijau dengan hembusan udaranya dingin, segar dan asri meyediakan fasilitas 21 kamar dengan harga mulai dari Rp. 100.000,- s/d Rp. 300.000,- per malam, restoran dan ruang rapat. Dia juga berjanji akan terus berbenah, berkreasi demi kepuasan pengunjung.

Rute untuk menuju lokasi tersebut yakni Medan – Berastagi – Merek – Sidikalang – Sidiangkat. Dengan menempuh waktu kurang lebih 5 Jam, dengan menaiki mobil sewa Dairi, Sampri, Pas Jurusan Pak-pak Barat dengan ongkos sebesar Rp, 45.000, atau menggunakan kendaraan pribadi.

  • WISATA KM. 12 LETTER Z

KILOMETER 12, LETTER Z Lokasinya tepat di pinggir jalan, dengan bentuk jalan yang berkelok seperti berbentuk huruf Z, maka dari orang-orang menyebutnya dengan julukan Letter Z, Kilometer 12, Kecamatan Siempat Nempu Hulu. Anda dapat menikmati hamparan tanaman buah naga yang terbentang luas di area sekitar 1.5 hektar. Selain dapat memetik sendiri buah naga, di tempat ini juga tersedia spot foto menarik serta wahana permain anak-anak. Dengan membayar tiket seharga Rp, 10.000/org.

Rute menuju lokasi tersebut yakni Medan – Berastagi – Kabanjahe – Merek – Sidikalang – Kilometer 12. Dengan menaiki mobil sewa Pas, Dairi, Datra Jurusan Tigalingga, membayar ongkos sebesar Rp, 50.000, atau ingin menggunakan kendaraan pribadi sendiri dengan menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam.

  • AIR TERJUN LAU CINGKAM

Lokasi air terjun Lau Cingkam Desa Gunung Sitember, Kecamatan Gunung Sitember Kabupaten Dairi menambah daftar destinasi wisata di Kabupaten Dairi. Lokasi ini mulai dilirik wisatawan, meski masih di tingkat lokal. Keberadaanya memang lumayan jauh sekitar 39 km dari ibukota kabupaten serta akses yang belum memadai. Bahkan, masih banyak warga tidak mengetahui ada wisata air terjun yang dekat dengan lokasi mereka.

Gunung Sitember merupakan salah satu desa yang berada Kecamatan Gunung Sitember, Kabupaten Dairi Sumatera Utara. Desa yang memiliki luas 77km² ini memiliki objek wisata  Air Terjun Lau Cingkam. Sebenarnya selain Lau Cingkam Desa Gunung Sitember juga Memiliki satu objek wisata lagi yang dulu cukup popular yaitu Gua Kendit Liang, adalah trowongan peninggalan sejarah yang hingga kini masih misterius. peninggalan sejarah yang hingga kini masih misterius itu belum mendapat sentuhan berarti dari pihak terkait. Pengunjung yang pernah masuk ke gua belum satu pun yang dapat menjangkau hingga ke ujung terowongan.

Seperti yang diketahui Air Terjun Lau Cingkam setiap minggunya ramai di kunjungi oleh wisatawan , walau masih tahap local. Rencananya objek wisata tersebut akan dibenahi oleh pemerintah setempat guna menunjang kesejahteraan warga yang berada di sekitar lokasi tersebut.

Dikutip dari website resmi Kab,Dairi, www.dairikab.go.id, “Kepala Dinas Pariwisata dan Pemuda Dairi, Drs Leonardus mengatakan akan menindaklanjuti potensi wisata air terjun tersebut,karena keberadaan air terjun tersebut masih lebih potensial  untuk dijadikan objek wisata ketimbang Gua Kendit Liang”.

Rute menuju Ai Terjun Lau Cingkam ini mulai dari medan yakni : Berastagi – Merek – Sidikalang – Tiga Lingga – Gunung Sitember. Menaiki mobil sewa Pas, Datra,Sampri dengan tarif ongkos Rp,55.000, dengan menempuh jarah kurang lebih 6 jam. dianjurkan untuk menggunakan kendaraan pribadi agar lebih leluasa untuk mengatur waktu dan tujuan selanjutnya.

  • AIR TERJUN DESA RANTE BESI

Air terjun ini berada di Desa Rante Besi Kecamatan Gunung Sitember, Kabuaten Dairi, Sumut. Warga setempat yang mayoritas Suku Karo menyebutnya Sampuren yang artinya air terjun. Seperti halnya kebanyakan desa di Taneh Pinem, yang meliputi Kecamatan Taneh Pinem dan Kecamatan Gunung Sutember (Kebupaten Dairi), desa ini juga didirikan oleh merga Perangin-angin Pinem).

Air Terjun Rante Besi memiliki tinggi mencapai kurang lebih 60 meter, Dengan memiliki 2 tingkat air terjun besar dan kecil, dengan air yang sangat sejuk. Rute untuk menuju lokasi dari medan yakni Medan – Berastagi – Kabanjahe – Merek – Sidikalang – Tiga lingga – Desa Lau tawar – Desa Rante Besi.  Sekitar 45 menit dibutuhkan waktu dari pusat pemukiaman Desa Rante Besi menuju air terjun ini. Dengan total menempuh waktu kurang lebih 6 jam. Biaya untuk masuk ke air terjun rante besi tersebut tidak di pungut biaya karena masih jarang diketahui oleh banyak khalayak. Dianjurkan  untuk menggunakan kendaraan pribadi.